Pagi ini, yang berhamburan di status teman adalah ucapan selamat hari ibu.
Pagi ini, yang membuncah di hatiku adalah rindu, pada sosokmu; Bu'eku
Beberapa
hari lalu, ada yang meradang di hatiku. Pasalnya, melalui statusnya,
seorang teman seolah mengolok-olok salah satu kegiatan seorang ibu,
yaitu menjahit. Secara garis besar, dia nyinyir mempertanyakan
penggambaran seorang ibu yang sedang menjahit di iklan PAN. Menurut dia,
hari gene, penggambaran sosok ibu harusnya yang memegang BB atau apalah
yang lebih keren dan modern. Aku yang jarang sekali menonton televisi
dan baru melihat iklan itu semalam justru makin emosi.
Berbaik
sangka bahwa dia hanya tak suka dengan PAN sehingga mencari titik yang
dianggapnya tak relevan dengan kekinian di iklan, aku menanggapi
statusnya dengan senyuman.
Berbaik sangka bahwa dia
hanya belum paham betapa berat profesi sebagai ibu, sesederhana apapun
job descriptionnya semisal menjahit robekan di baju, aku berkomentar
menjahit justru merupakan salah satu passion-ku dan aku sangat enjoy
dengan itu.
Berbaik sangka bahwa dia tak memiliki ibu yang bisa sekedar memasang kancing apalagi menjahitkannya celana aku justru jatuh iba.
Lebih
dari tiga puluh tahun yang lalu, seorang ibu selama beberapa lama,
setiap malamnya, menjahit rok seragam untuk ketiga anak perempuannya.
Jangan dibayangkan beliau bisa tata busana karena telah kursus sementara
SR saja tak lulus. Beliau melakukan itu karena tak mampu beli seragam
jadi.
Beliau memicingkan mata di tengah
kerlip lampu uplik, memotong dan menyambung kain drill merah demi cinta
pada anak-anaknya yang senantiasa merekah.
Beliau
telaten memasukkan benang pada lubang jarum, menusukkan lalu menarik
jarumnya ke dan dari kain sebab keterbatasan yang dipandangnya sebagai
tantangan, bukan penghalang. Ya, mesin jahit termasuk barang mahal
baginya yang untuk makan sehari-hari saja harus gigih berjuang.
Sementara ongkos menjahitkan pun termasuk pengeluaran yang harus
dihilangkan.
Ibu itu, Bu'eku.
Dalam diamnya beliau mengajariku perjuangan dan mencari celah yang masih bisa kita manfaatkan.
Dalam keberadaannya selalu di sisiku, di sisi kami, anak-anaknya, beliau pun tetap mengajari bagaimana menjadi wanita mandiri.
Tanpa harus kehilangan jati diri sebagai istri, menjadi partner sejajar suami.
Teman
itu tak tahu, betapa tak sedikitnya ibu yang menggadaikan waktu
berharga dengan anak-anaknya demi karir yang dipandang lebih berharga
dibanding profesi sebagai ibu rumah tangga.
Teman itu tak
menyadari, betapa tak sedikit wanita yang rela menduakan anaknya dengan
alat teknologi agar disebut modern dan trendi.
Teman itu belum
memahami, bahwa dari segi anak, yang terpenting bukanlah apakah ibunya
gaptek atau melek teknologi. Bukanlah apakah si ibu bau wangi atau bau
terasi.
Bagi seorang anak, sesungguhnya yang dilihat
dan diingat, bahkan hingga tiga puluh tahun kemudian adalah apa yang
dilakukan ibu untuknya dan seberapa dekat mereka, secara jiwa, juga
raga.
Zaman memang berubah. Bahwa perempuan dituntut
(atau sebenarnya menuntut dirinya sendiri?) untuk lebih mandiri terutama
secara materi.
Namun ada yang tetap tak berubah dari dulu.
Yaitu; rumah butuh dipel dan disapu. Pakaian perlu dicuci dan disetrika.
Masakan harus tersedia di meja, dan bla bla bla.
Asisten rumah tangga bisa mengerjakannya, kilah mereka yang tak mau repot.
Iya.
Itu benar adanya. Dengan beberapa catatan. Dengan beberapa kekurangan.
Satu kekurangan terbesar yaitu, mereka melakukannya tanpa cinta.
Zaman
memang berubah. Ibu yang menjahit mungkin tak tampak 'seksi' lagi
(seperti yang kuyakini sembilan tahun lalu). Tapi kita tentu tak lupa,
bahwa pakaian yang kita kenakan, adalah produk dari jasa konveksi yang
sebagian besar karyawannya adalah perempuan, ibu-ibu dari seseorang.
Kekinian,
tak harus selalu dilekatkan pada sesuatu yang bernama gadget terbaru.
Sebagaimana profesi ibu tak harus digambarkan sedang menjahit baju.
Meskipun jika digambarkan seperti itu, sungguh sangat menyentuhku.
Membawa kenangan masa lalu.
Tanah Baru, 22 Des '13 19.26
Thanks to my lovely husband, yang pertama kali mengajariku cara menjalankan mesin jahit.
Translate
Rabu, 08 Januari 2014
Panorama pagi, 5 Januari 2014, Grand Elty Krakatoa. Gunung Raja Basa dan pantainya.
Yasmin narsis gaya baru di Menara Siger. Ranu malu dengan gaya ajaib kakaknya, memalingkan muka. :P
MakZIC di halaman Menara Siger.
Ketiduran menunggu pesanan di rumah makan pertama begitu kami menginjakkan kaki di Sumatra.
Rebutan bola, dan.... jebreettt!!! :D
Group Mas Echo sebagai juara pertama. Keren oiy!
Ayo kita kesana Nak! begitu kira-kira kata Mas Pawang ke gajahnya di Way Kambas.
Bobo pules di mobil di tikum Km 13,5 tol Jakarta-Merak.
Penyerahan bantuan tas dan perlengkapan tulis untuk anak2 sekolah di sekitar Way Kambas.
Yasmin narsis gaya baru di Menara Siger. Ranu malu dengan gaya ajaib kakaknya, memalingkan muka. :P
MakZIC di halaman Menara Siger.
Ketiduran menunggu pesanan di rumah makan pertama begitu kami menginjakkan kaki di Sumatra.
Rebutan bola, dan.... jebreettt!!! :D
Group Mas Echo sebagai juara pertama. Keren oiy!
Ayo kita kesana Nak! begitu kira-kira kata Mas Pawang ke gajahnya di Way Kambas.
Bobo pules di mobil di tikum Km 13,5 tol Jakarta-Merak.
Penyerahan bantuan tas dan perlengkapan tulis untuk anak2 sekolah di sekitar Way Kambas.
Lampung Conservation Journey ZIC Part 2
Jam digital
di dashboard Jlitheng menunjukkan angka cantik 22:44 begitu kami berhenti di
depan rumah. Alhamdulillah, perjalanan indah ini berakhir sudah. Meski
sesungguhnya, 3 malam 4 hari masih terasa kurang bagi kami. Dan aku yakin, itu
dirasakan juga oleh semua ZICers, MakZIC, maupun KidZIC. Perkara baju kotor
menggunung tinggi, atau badan pegal-pegal seolah habis ketabrak Joni (baca
Lampung Conservation Journey ZIC Part 1), itu bisa nanti. Yang penting bahagia
itu mengguyur kami semua. Seperti hujan yang tak perlu modal, diturunkan begitu
saja bahagia itu olehNya. Lewat eratnya persahabatan, rekatnya kekeluargaan.
Games, Doorprize, Best
of…
Sedikit
berbeda dengan Jamnas atau touring sebelumnya, Jamnas kali ini seksi acara
menyajikan sesuatu yang lebih menantang dari pada kubangan gajah. Di-handle oleh duet maut Tante UI; Lupi dan
Ruri, tiap group diadu kekompakannya. Ujian pertama berupa games memindahkan
karet dengan sedotan. Disusul kemudian mengisi botol air mineral dengan air
laut sebanyak mungkin dibatasi waktu. Setelahnya lomba bakiak tandem. Selanjutnya
menguji kelincahan jari dengan menganyam sedotan untuk ‘sangkar’ telur yang
kemudian dijatuhkan. Dan setelahnya, futsal pantai yang jelas menguras tenaga.
Untungnya, semua games itu dilaksanakan setelah sarapan pagi, dengan rasa
masakan yang cenderung royal lada. Dari semua rangkaian games itu, yang keluar
sebagai juara pertama group Mas Echo, Alpha, dan yang buncit groupku, Bravo.
Sementara
Emak dan Bapaknya ketawa-ketiwi hepi berkompetisi, anak-anak yang sudah seperti
saudara sendiri asyik dengan gank-nya masing-masing. Sebelumnya, disediakan
pula lomba-lomba untuk mereka have fun
bersama. Dan menutup aktivitas siang menjelang sore hari ketiga Jamnas, para
emak rupanya tak mau kalah sama anak-anak, main air, naik banana boat. Dan tak
mau kalah pula dengan kaver majalah lelaki dewasa, di kolam renang yang hanya
sedalam 95 cm mereka berpose dengan aduhai. Masih merasa 17+ ya? Hahaha…Peace
Maks…:P
Usai
kumandang sholat Isya, satu persatu penghuni kamar di sayap kiri bangunan Grand
Elty Krakatoa Hotel n Resort bermunculan menuju satu titik; gala dinner ZIC!
Hujan tak menghalangi karena kehangatan persahabatan cukup tangguh mengusirnya.
Juga kambing guling serta banyak hadiah yang sudah tersedia. Sedikit berbeda
dengan tradisi sebelumnya, touring kali ini ada sidak kebersihan dan kerapihan
mesin yang disediakan ganjaran bagi pemenangnya. Juga best dresscode saat di Way Kambas yang dimenangkan oleh Om Wied dan
Te Novi. Keduanya, menurutku memang sangat layak menang polling. Bahkan petugas
TSI Cisarua aja lewatttt. Naksir berat sama boot te Novi. Seksi! J Dan seperti tradisi touring atau
event lainnya, ZIC selalu mengadakan tukar kado dan doorprize. Doorprize
merupakan sumbangan ZICers, sukarela. Bisa juga dari sponsor. Sayang, tas
cantik dari tante Nory belum berjodoh denganku. Huhuhu… Salut buat peserta touring
terjauh, sepasang sejoli Om Budi Brown dan Tante Fifi dari DEnMArK yang habis
digodain Mas Echo Leader karena sapi kaki 3-nya (manual). Juga dede bayi Om Manggar
Te Alfa yang baru berusia 6 bulan sebagai peserta termuda.
Pulang!
Matahari
masih malu-malu ketika aku keluar kamar pagi itu. Setengah enam, setelah
kelelahan sesiangan kemarin dan semalam, ZICers pasti kebanyakan memilih
bergelung di selimut usai sholat subuh pagi hari keempat Jamnas. Tebakanku
mengena, karena di luar, hanya kujumpai ODL yang asyik mengambil beberapa foto
sebelum kembali ke kamar. Aku meneruskan langkah ke dermaga tempat MakZIC
ber-banana boat ria. Gunung Raja Basa masih tertutup awan atasnya. Menjelang
terang baru awan itu menyibak, menampakkan puncak gunung yang melandai.
Ingatanku terbawa ke puncak Arjuna lebih dua puluh tahun lalu, dari atas awan
terlihat seolah gelombang di lautan. Indah sekali.
Sempat
berbincang dengan sepasang suami istri asli Lampung di dermaga, sesi
jalan-jalan sendiriku pagi ini kututup dengan obrolan dengan seorang bapak.
Beliau pensiunan Pemda Lampung, diajak anak dan cucunya yang tinggal di Jakarta
untuk refreshing, menyewa resort di Elty. Menjelang usia 69 tahun, Pak Syaiful
masih tampak segar mengayuh sepeda sewaan. Beliau banyak bercerita tentang
sekitar 60% pendatang, juga suku tertentu dengan stereotipnya masing-masing.
Dan baru kutahu, ternyata jalan utama yang kami lalui sebenarnya adalah jalan
baru. Jalan yang asli sebenarnya masih masuk di pedalaman. Daripada
mengeluarkan dana banyak untuk bla bla bla, pemerintah daerah lebih memilih
untuk membangun rute baru. Demikian menurut cerita beliau. Mungkin itu sedikit
banyak menjawab pertanyaan di kepalaku, kenapa di beberapa bagian jalan rusak
parah sementara di bagian yang lain mulus. Yap, dimana pun, friksi antara
pemerintah, pendatang, dan penduduk asli pasti selalu ada.
Kembali ke
kamar, aku segera packing, sementara
anak-anak mengambil kesempatan terakhir bersenang-senang di kolam renang
sebelum check out pukul 10. Dan
seperti yang sudah diagendakan, CSR ZIC di kawasan ini berupa sumbangan untuk
penanaman pohon bakau. Dilakukan secara simbolis dengan menanam pohon di
halaman Elty. Dia akan jadi pengingat jika suatu saat kami berkesempatan
kembali ke sini, bahwa pernah ada sebuah kebersamaan indah yang bernama Lampung
Conservation Journey oleh Zafira Indonesia Community.
Usai
foto-foto narsis seperti biasanya, kami lalu line up menuju jalan besar, kembali ke Bakauheni. Jadwal
penyeberangan kapal jam 1, meski ternyata kepadatan traffic membuatnya molor menjadi jam 2 siang. Alhamdulillah,
terimakasih kepada Om Didin yang dengan channel-nya
membantu ZIC hingga mendapat perlakuan khusus. Termasuk ruang akomodasi yang
nyaman sehingga ZICers sebagian bisa istirahat.
Dibanding
Munic 1, armada yang kami tumpangi dari Merak ke Bakauheni, Caitlyn ini
relative lebih bersih dan lebih lapang. Dan meski di geladak depan mushola
diputar rekaman organ tunggal yang teramat menyedihkan suara music dan
penyanyinya, tak apa. Toh kami yang di dalam tak mendengar. Hehe..
Setengah jam
menjelang sandar, si awan gelap rupanya tak sabar lagi menurunkan bulir-bulir
airnya. Hujan dengan angin lumayan kencang sedikit memberi goyangan. Alhamdulillah
ketika kami harus keluar ruangan, kembali ke mobil untuk bersiap keluar kapal,
hujan hanya rintik-rintik. Pun ketika kami melaju menuju tol, sudah berhenti
total. Rencana berhenti di rest area untuk pembubaran sekaligus mengajukan
request wisata durian dibatalkan. Waktu sudah mepet sekali. Sekalipun kami
masih ingin bersama, anak-anak dan sebagian besar dari ZICers harus kembali ke
alam nyata; belajar dan bekerja. Maka, pesan dan kesan petugas touring yang
belum terakomodir selama berjalan dari Bakauheni, sekaligus pembubarannya kami
laksanakan di rest area km 59. Kalau tak salah sih. Tempat sama pembubaran
tourdak Anyer beberapa bulan lalu.
Senada,
dengan beberapa tambahan di sana sini, all Zulu sepakat, bahwa hanya kepuasan
dan kebahagiaan yang kami dapatkan. Soal kekurangan di sana sini termasuk sharing room, makanan, ketahanan
sapi-sapi (sebutan cinta kami pada Zafira), dan uji nyali serta keahlian manuver
driver, anggap saja sebagai
kembang-kembang yang memperindah sebuah perjalanan. Tak sabar rasanya menanti
touring berikutnya. Dan yang paling dekat tentu saja nobar. Membayangkan hasil
jepretan dan rekaman serta editan mas Imam yang gesit luar biasa mencari angle pas, rasanya kami tak sabar saja.
Yang jelas akan membahana di nobar nanti pasti adalah tawa.
Yap, ada
banyak yang bisa mempersatukan kita dalam sebuah komunitas. Bisa tunggangan,
bisa hobi, bisa profesi, bisa pula sebab lainnya. Yang membedakan kemudian
adalah apakah komunitas itu melibatkan semua anggota keluarga, itu yang belum
tentu semua bisa. Di Zafira, kami temukan itu. Beberapa dari kami bahkan
melihat anak tumbuh bersama-sama. Dan seperti segala sesuatunya, ada proses
yang mengiringi. Ada hati-hati yang siap berbagi, saling memahami, menahan
friksi. Entah sampai kapan keluarga besar ini berjalan, hanya waktu yang mampu
memberi jawaban. Sementara itu, kita nikmati saja indahnya, kebersamaannya,
gelak tawanya.
Tanah Baru,
6 Jan ’14 21.18
Indarwati,
MakZIC Slamet Harsono ZIC024, Jlitheng
Langganan:
Postingan (Atom)









