Translate
Kamis, 02 Juli 2015
Doctor Bag Batik
Tas model ini dikenal sebagai Doctor Bag karena model bukaannya seperti tas dinas dokter. Bukaan itu ada yang langsung tanpa ritsleting, ada pula yang diberi ritsleting. yang membuat bukaan dia berbeda adalah frame/ behel yang dipasang di mulutnya, di bawah ritsleting.
Frame berbentuk setengah segi empat dengan vaariasi sudut 90 derajat atau lonjong ini terbuat dari alumunium khusus (kalau tidak salah). Kebanyakan masih import, makanya harganya masih lumayan mahal. Untuk yang ukuran 30 cm biasa dibandrol oleh online sellers Rp 55.000,-/pc.
Selain framenya yang mahal, model ini juga lebih cocok kalau pakai handle dari kulit. Entah itu yang sintetis ataupun kulit asli. Itu juga saah satu alasan kenapa tas model ini lumayan mahal juga harga jualnya. Tapi, sesuailah dengan modelnya yang sebenarnya sederhana--karena prinsip dasar pembuatannya adalah totebag--tapi tampak elegan.
Nah, doctor bag buatanku ini adalah yang pertama. Seorang sahabat mengirimkan batiknya buat kubikin tas.
"Modelnya terserah deh," katanya.
"Sip," batinku. Bisa buat eksperimen nih. Hehehe...
Maka, setelah berminggu-minggu, kusela mengerjakan pesanannya yang lain dari bahan kanvas dengan model tertentu--yang terpaksa berhenti tengah jalan dan harus kubikin ulang karena kesalahan desain dan penentuan bahan--kubikinlah model ini.
Puas, jelas. Meski tetap harus ada beberapa hal yang perlu perbaikan.
Tas ini memakai frame ukuran 30 dengan handle kulit sintetis. Ukuran jadi 38L x 25H x 11T cm.
Kantung hape dan kantung ritsleting di dalam.
Selasa, 16 Juni 2015
Jenis-jenis Pelapis Tas
Sebagai penjual, kita harusnya memahami product knowledge dari barang yang kita jual. Termasuk di dalamnya
cara pakai, alat penunjang untuk pemakaiannya, serta kelebihan dan
kekurangannya. Hal ini akan membantu sekali pembeli newbie, yang baru terjun di ranah itu untuk memutuskan membeli
barang sesuai dengan yang mereka butuhkan.
Sebagai pembeli, aku beberapa kali kecewa karena
saat membeli sebuah barang, seorang penjual tak hanya bermimik datar, tapi juga
tak tahu kegunaan alat itu dan bagaimana cara pakainya. Kalau menemui hal
semacam itu, langkah pertama yang bisa kita ambil sebagai pembeli adalah maklumi
saja. Karena penjual belum tentu pelaku di industry itu yang tahu cara pakai
alat tersebut. Apalagi kalau penjualnya itu SPG baru. Kedua, jangan sampai mati
gaya, tanyalah pada Om Gugel—atau “Om-om’ lain yang berbaik hati menyediakan
seabrek informasi di era teknologi sekarang ini--atau pakai cara konvensional;
baca buku atau tanya teman-teman yang
lebih berpengalaman.
Belajar dari dua posisi di atas, berikut aku sarikan ‘product knowledge’ dari bahan pelapis
yang sebagian besar aku jual di fanpage Ayaran Craft. Selain rivet/paku keling
dengan berbagai macam variannya, bahan pelapis adalah produk yang menempati FAQ
(Frequentlly Asked Questions)
tertinggi. Semua karakter masing-masing bahan pelapis (interlining) yang
kutulis di bawah ini kusarikan berdasarkan pengalaman. Baik itu aku sendiri
yang mengerjakan atau oleh tukang tasku.
Berikut bahan pelapis yang masih dan pernah kugunakan.
1 1. Busa
Lapis
2. 2. Busa
Ati
3. 3. Busa
polyfoam
4. 4. Busa
Teri
5. 5. Dakron
press
6. 6. Dakron/silikon
lembaran
7. 7. Kain
keras (t103)
8. 8. Stapleks
(M33)
9. 9. Vislin
1 10. Pelon
11. Laken
1 12. Flannel
1 13. Karton
1 14. Kulit
sintetis/spon
1.
Busa
Lapis
Busa lapis menempati urutan pertama karena dia yang lebih mudah kita
temui di sekitar. Teksturnya busa dengan serat rapat di satu sisi dan sisi
lainnya ada semacam ‘lapisan/kain’.
·
Cara menjahitnya sisi yang tidak ada lapisannya
bertemu dengan sisi buruk kain. Lapisan ini berfungsi juga sebagai lining, sehingga
tak perlu diberi lining (lapisan
dalam) lagi pun tak apa-apa. Bisa dijahit di pinggir sehingga saat memotong
pola termasuk kampuh (jarak antara tepi bahan dan benang jahitan). Untuk yang
luasan lebih luas, sebaiknya dijahit tindas (quilt)
·
Penggunaannya bisa kita temukan di sarung bantal,
tutup kulkas, tutup galon, atau pouch.
Ada berbagai macam ketebalan yang sesuai dengan produk yang kita hasilkan.
Misal untuk tutup kulkas, bisa dengan ketebalan 4 mm. Untuk pouch atau tas bisa dengan ketebalan 5
mm atau di atasnya. Terserah.
·
Kekurangannya, untuk pemakaian lama dan dicuci
berkali-kali, dia bisa menjadi kempes.
·
Kisaran harga 10 ribu ke atas per meter sesuai
ketebalan dan tokonya. Lebar 1,5 m.
2.
Busa
Ati
Teksturnya sama dengan sandal, kenyal dan padat. Ada berbagai macam
ketebalan. Ada yang berwarna hitam dan dijual dalam bentuk potongan dengan
ukuran tertentu, ada warna putih dan dijual gulungan/ meteran. Hanya, untuk
yang berwarna hitam biasanya ketebalannya tidak merata. Ada sebagian yang lebih
tipis dan sebagian yang lebih tebal. Sedangkan yang putih, ketebalannya lebih
merata.
Busa ati dengan anti slip di satu sisinya biasanya digunakan sebagai
bahan pembuat slipper seperti yang biasa kita temui di sandal hotel.
·
Cara menjahitnya, untuk yang tipis bisa dijahit
termasuk kampuh. Untuk yang tebal, dijahit di dalam kampuh. Sebaiknya dilem
dulu dengan lem bening (aibon dsb) baru dijahit. Menjahitnya bisa dengan roller foot atau jika dengan sepatu
biasa, lapisi atas/bawah busa ati dengan kertas koran agar tidak seret. JIka
tak ingin mengelem, bisa langsung dijahit system
sandwich (outer, interlining, lining)
tapi kampuh lalu ditutup dengan bisban. Semua tergantung penempatan.
·
Penggunaan bisa untuk bagian badan tas, alas
tas, flap (tutup), atau handle. Pada backpack serut Sak Telu, Ayaran
menggunakan busa ati 2 mm untuk alasnya. Busa ati 2 mm juga digunakan sebagai interlining di handle backpack Ranu.
Sedangkan busa ati 1 mm digunakan di flap tas Layang.
·
Kisaran harga 10 ribu ke atas per meter tergantung
ketebalan dan tokonya. Lebar 1,4 m
3.
Busa
polyfoam
Kita biasa mendapati busa jenis ini untuk peredam gesekan di furniture
kayu yang kita beli yang bisa di-breakdown.
Permukaan mengkilat dan licin, membentuk semacam gelombang-gelombang tak
kentara seperti di permukaan asbes. Ada beberapa ketebalan. Busa polyfoam lebih
kenyal daripada busa ati dan dia patah jika dijahit.
·
Cara menjahitnya dengan system sandwich, tapi
dia tidak termasuk kampuh. Jadi sisa kampuh outer dan lining harus ditutup
dengan bisban. Atau jika tak memakai bisban, dia diselipkan ke dalam setelah
outer dan lining dijahit dan dibalik ke sisi baiknya.
·
Biasa dipakai sebagai interlining handle tas ransel.
·
Kisaran harga 10 ribu ke atas tergantung
ketebalan dan tokonya.
4.
Busa
Teri
Teksturnya mirip busa lapis, tapi lebih awet dari sifat kempes setelah
pemakaian lama. Ada semacam lapisan kain di satu sisinya, sehingga bisa
langsung berfungsi sebagai lining. Jika busa lapis berwarna krem putih, busa
teri berwarna hitam.
·
Cara menjahitnya, seperti busa lapis.
·
Penggunaan biasanya untuk lapisan di tas ransel
sebagai bantalan bagian punggung , atau kantung laptop. Juga sebagai lapisan
tas laptop tanpa harus memakai lining lagi.
·
Kisaran harga 10 ribu ke atas tergantung
ketebalan dan tokonya.
5.
Dakron
press
Dakron yang dipres, dengan berbagai macam ketebalan dan tekstur. Ada yang
halus, ada yang kaku. Dakron pres yang halus dengan ketebalan tipis sekitar 3
mm teksturnya mirip laken dan flannel. Dengan sifat lebih melar daripada
keduanya. Warnanya putih.
·
Cara menjahitnya bisa dengan system sandwich.
Untuk membuat pouch, dia tak perlu dijahit tindas. Tapi untuk lining tas
sebaiknya dijahit tindas agar lebih menyatu dengan lining dan outer.
·
Sebagai interlining tas, dia memberi efek
bervolume, tapi lemas, tidak ‘membentuk’. Cocok untuk model simple sling bag.
Atau backpack anak-anak yang ingin kelihatan ‘berisi’ tapi cukup ringan dan
tipis.
·
Harga kisaran 25 ribu ke atas per meter tergantung
ketebalan, import atau lokal, dan tokonya.
To be continued…J
Rabu, 03 Juni 2015
Trik Sederhana Seharga Tiga Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu
Salah satu hikmah silaturahmi adalah memperpanjang rejeki.
Silaturahmi yang kumaksudkan di sini bukan dalam konteks agama yang makna
sebenarnya menyambung tali persaudaraan antar saudara sekandung (satu rahim) yang
terputus melainkan lebih ke pertemanan secara umum.
Salah satu ‘satu rahimku’ adalah komunitas Crafter Depok yang
awal berdirinya berasal dari dua ‘kubu’ komunitas Crafter yang punya cukup
taring waktu itu (sekitar 2010-an); Indonesian Crafter dan Ibu-ibu Hobi Craft. Persamaan
visi dan misi menjadikan kami erat bergandengan hingga kini. Tak peduli media
apa yang menjadi ruahan ekspresi seni kami.
Geliat medsos yang makin genit membuat pelaku craft semakin meroyak.
Termasuk pelaku-pelaku bisnis handycraft/handmade yang melirik
komunitas-komunitas craft sebagai sumber mencari produk-produk bagus
berkualitas dan jelas unik. Pun, menjadikan pelaku handmade newbie sebagai
pangsa pasar yang prospektif untuk digarap. Ketertarikan crafter kawakan maupun
‘crafter bisnisman’ menjadikan event-event workshop (kursus singkat) mekar bersemi
bagai bunga matahari di jam sembilan pagi. Mekar, indah, menarik untuk diikuti.
Ayaran Craft, termasuk salah satu pelaku jasa workshop sekitar setahun ini.
Meski idenya sendiri sudah berbenih sejak 2008.
Beberapa teman, ada yang mengaku lebih mudah menerima ilmu
dengan mengikuti berbagai workshop. Meski skill dia sebenarnya sudah cukup
untuk mendedah pola dan mengeksekusi bahkan membuka workshop sendiri. Nah, dari
hikmah silaturahmi inilah muncul ide utama tulisan ini, berbagai macam workshop
yang pernah dia ikuti.
Jenis yang pertama, murni bisnis. Jika mengikuti workshop
jenis ini, yang langsung jelas kelihatan adalah harganya yang mahal. Meski,
soal harga workshop sendiri pasti tiap penyelenggara sudah mempunyai
hitungannya. InshaAllah nanti saya tulis topik khusus tentang ini. Sebelumnya,
mari kita sepakati bersama bahwa harga mahal dan murah itu memang relative,
tapi ada standar khusus yang bisa kita jadikan titik ukur di sini. Misal jenis
bahan. Linen import dan kanvas tentu beda, sebagaimana katun jepang tentu
berbeda harga dengan katun lokal.
Sebenarnya kalau dibilang murni bisnis tidak tepat juga sih,
karena jiwa bisnis sebenarnya bukan hanya short
terms, mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya sesaat, tapi juga long terms; Good relationship dengan pelanggan.
Contoh kasus workshop jenis ini adalah seperti cerita teman, WS
membuat pouch dengan harga dua ratus dua
puluh lima ribu, dengan model sederhana, dan ternyata tidak pakai bahan
pelapis. Si teman--sebut saja D--yang memang iseng ingin tahu karakter pemberi
WS tentu kecewa. Meski niatnya hanya
ingin merasakan WS sama si A, tapi sebagai crafter lawas yang sudah pintar dan
tahu berbagai macam bahan dia merasa lebih kecewa. Terlalu hitung-hitungannya
si pemberi WS selain dinilai dari teknisnya (bahan dll) juga dirasakan dari jam
WS yang dimulai jam 13.00 (sehingga tak perlu menyediakan makan siang), snack disediakan di piring pas dua biji untuk
tiap orang, dan air minum yang dibatasi.
Jenis kedua, bisnis dan kekeluargaan. Ini tengah-tengah. Ayaran
Craft memposisikan diri di sini. Ada hitung-hitungan harga dan keuntungan yang
harus didapat, tapi juga tak terlalu strict
atau pelit soal memberi ilmu dan konsumsi. Bahkan pada beberapa kasus, Ayaran
Craft membebaskan semua biaya, termasuk bahan, sharing ilmu, dan konsumsi.
Terlalu strict soal
ilmu misalnya, setelah WS model satu, si pelanggan tak boleh konsultasi model
yang lain. Di Ayaran Craft seorang pelanggan yang pernah WS satu model tas,
saat dia datang ke bengkel untuk membeli bahan,--ya, Ayaran juga menyediakan
aksesoris dan bahan ws terutama tas handmade—dia bebas konsul soal model tas
lainnya. Hanya, memang untuk membagi tutorial dan tricks n tips di akun medsos Emak Ayaran masih belum bisa bebas terkendala
urusan domestik lainnya.
Salah satu contoh lagi pemberi WS jenis ini lokasinya di
Cibubur. Emak Ayaran pernah menimba ilmu di sana dengan seorang sensei ‘import’
dari Jepang (J) dan beberapa kali membeli
barang di toko onlinenya. Harga WS yang dipatoknya memang relative mahal. Tapi,
kata orang Jawa, ono rego ono rupo,
ada harga ada kualitas. Salah satunya adalah karena bahannya yang import punya.
Secara bisnis, itung-itungannya dapat. Kalau tidak salah tahun ini si MC ini
(nggak usah sebut nama pasti udah pada tahu dong… hehe) ulang tahun ke lima. Kekeluargaannya
pun dapat karena si Mbak pemilik n partner orangnya baik.
Jenis ketiga, lebih banyak porsi sosialnya. Nah, kata
teman pemberi WS juga, jenis ketiga ini merusak harga pasaran WS. Beliau bertandang
ke bengkel Ayaran Craft untuk membeli bahan pelapis tas. Ngobrol-ngobrol sampai
ke hot issue seorang pelaku handmade
sekaligus pemberi WS yang melakukan pembohongan publik dengan foto-foto orang
lain yang diakuinya, pembicaraan merembet sampai ke harga WS. “Protes aja
sekalian ke si Mbak B karena terlalu murah memberi harga, merusak pasaran,” katanya.
Emak Ayaran yang berada di posisi tengah hanya tersenyum dan ngadem-ngademi, “Tenang, semua memiliki
pangsa pasar tersendiri. Rejeki nggak bakal tertukar. Ada orang yang nyaman
dengan harga mahal, ada pula yang memang harus mengetatkan ikat pinggang dengan
niat belajar yang sangat besar. Maklumi saja.”
Jenis ini, dia (atau beliau) hanya mengambil keuntungan sedikit
dari ilmu yang dibagaikan. Tapi, hukum memproduksi/menjual suatu produk; jika
kamu tidak bisa menjual dengan harga mahal dengan jumlah sedikit (karena
segmennya lebih mengerucut), jual lah produk murah dengan kuantiti banyak. Pada
akhirnya keuntungan bisa jadi setara.
Lalu apa hubungannya jenis-jenis pelaku WS dengan judul di atas?
Jadi begini, hari ini ceritanya Emak Ayaran nambah ilmu, ikut
WS. Meski Emak Ayaran sudah pernah mengamati proses produksi rumahan sebuah produk
handmade—yang kebetulan 11-12 dengan per-tas-an--, tapi terjun langsung ke dalamnya
adalah dua hal berbeda. Harga WS itu tiga ratus tujuh puluh lima ribu. Karena tahu
harga-harga bahan, Emak Ayaran bisa mengambil kesimpulan si pemberi WS
mengambil keuntungan lumayan.
Soal harga, okelah. Itu terserah pribadi-pribadi mau menentukan
margin keuntungan dia berapa. Hal yang membuat kurang nyaman adalah tak adanya
ruang untuk sholat. Padahal, sebagai peserta tercepat dan paling rapi (menurut
pengakuan si instruktur) Emak Ayaran baru kelar jam dua siang lewat. Artinya,
waktu sholat duhur sudah nyaris habis. Ketiadaan tempat sholat dimaklumi karena
penyelenggaranya seorang non muslim. Ketidaknyamanan kedua, snack yang dijatah.
Beda banget sama WS di tempat Mbak jenis ketiga yang berlimpah snacknya. Emak Ayaran
yang kebetulan karena mengejar waktu tak sempat membawa atau membeli minuman,
terpaksa harus menahan dahaga teramat sangat dari jam 9.00 (masuk rumah) sampai
jam 14.10 (keluar rumah) karena hanya tersedia satu gelas air mineral selain 3
buah snack, di dalam snack box. Sebenarnya mungkin kalau minta bisa, tapi si
Emak Ayaran terlalu malu untuk minta tambah minum air mineral gelasannya. Hehe…
Tapi, itulah.. selalu ada hal lebih yang bisa kita dapatkan dari
sebuah kejadian yang mengandung nilai kurang. Misalnya tips sederhana dalam
penyimpanan dan pengaplikasian lem. Tips n trik ini yang hanya bisa didapatkan
saat kita ikut workshop. Ini juga yang sering Emak Ayaran bagikan saat peserta
WS kurang tepat dalam proses pembuatan sebuah tas. Tips n trik yang bisa jadi
berbeda untuk tiap individu tergantung tingkat keahliannya.
So… Mari kita tetap berkarya. Tetap memberi WS dan ikut WS untuk
tahu sebuah tips sederhana meski itu seharga tiga ratus tujuh puluh lima ribu.
Tanah Baru,
2 Juni 2015 23.48
Selamat buat teman-teman ‘satu rahim’ Crafter Depok dan Asosiasi
Industri Kreatif Depok yang tengah berjuang membuktikan eksistensi diri di
Festival Industri Kreatif Depok, Balai Kota Depok, jalan Margonda Raya, 3-7
Juni 2015.
Selamat berjuang untuk teman-teman Crafter Depok di PRJ Kemayoran
minggu berikutnya. Tetap cemungud! Eeeyyaaaa!!! :D
Langganan:
Postingan (Atom)






