Translate

Tampilkan postingan dengan label WPC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WPC. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

ROAD TO BEST 25 IWPC2


Ada yang sedikit berbeda siang menjelang sore itu (Kamis, 20/02/’14) di ruang 606 lantai 6 gedung Kalbis Institute, Pulomas. Bak Don Juan, Bapak Taufan Arifin, seorang Graphich Journalist, Praktisi Visual & Editor in Chief SUCCESS Magazine dikerubuti ibu-ibu. Tak sembarang mengerubuti tentu, karena berguru dari semut, para ibu hebat yang tergabung dalam Womanpreneur Community atau lebih akrab disingkat WPC itu tengah mengunduh ilmu dari salah satu suhu Graphich itu. Dan bukan pula Pak Taufan Arifin namanya kalau tidak dengan ramah melayani ibu-ibu yang tengah haus ilmu.

Visual Thinking, adalah salah satu ‘mata kuliah’ dari sekian banyak pembelajaran yang didapat oleh ibu-ibu tadi. Mengapa founder WPC Ibu Irma Sustika, seorang motivator yang gesit ini dan ‘soulmate’-nya Mamih (demikian beliau biasa disapa) Ietje S. Guntur merasa perlu memberikan pembekalan itu, karena memang manusia pada dasarnya cenderung berfikir visual. Apalagi di era digital,  dimana gambar dan foto begitu dominan mempengaruhi persepsi seseorang.

Kamis itu, adalah hari pertama pembekalan dari dua hari yang dijadwalkan. Dan Pak Taufan Arifin mengisi slot kedua setelah sebelumnya diisi oleh Pak Isdiyanto, seorang mantan journalis, dengan topik Membuat Bisnis Kecil Bersistem. Pembekalan dan Bazar bagi sebagian peserta di bulan Februari merupakan rangkaian kedua dari empat bulan pembekalan dan pendampingan intens yang dilaksanakan oleh WPC. Tak sekedar pembekalan dan pendampingan, program ini diberi nama Inspiring Womanpreneur Competition atau biasa disingkat IWPC. Sukses dengan IWPC1 yang puncaknya pada bulan Desember tahun kemarin. Maka digelarlah IWPC2 yang dimulai pada bulan Januari hingga puncaknya direncanakan April mendatang.

Hari kedua pembekalan, Jumat (21/02/’14), topik yang diberikan narasumber tak kalah menariknya. Bahkan bagi penulis sendiri yang benar-benar baru belajar bisnis, topik yang disajikan dengan gamblang oleh Pak Dion Dewa Barata, salah satu Dekan di Kalbis Institute ini benar-benar membuka mata. 9 Langkah Praktis dalam Berbisnis yang beliau paparkan begitu sederhana dan aplikatif. Dari hal yang berhubungan dengan mindset seperti ‘Apakah mimpi bisnis Anda dan apakah bisnis ini membuat Anda bahagia?” hingga ke pembahasan praktis seperti membuat kontrak kerja dengan karyawan. Masih bersemangat dengan 9 langkah bisnis dari Pak Dion, dahaga kelas IWPC2 akan ilmu bisnis praktis makin terpuaskan dengan topik SDM Bagi UKM oleh Pak Teguh Wibawanto pemilik bisnis Hydro yang bergerak di bidang memurnian air. Sumber daya manusia, harus diakui merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh para pengusaha. Baik yang sudah berjalan dengan bisnisnya maupun yang tengah merangkak membangun bisnis. Pembekalan hari kedua bulan kedua itu akhirnya ditutup dengan senyum-senyum puas para peserta.

Esok harinya, dari Pulomas, kegiatan bergerak ke Jakarta Selatan tepatnya di daerah Kemang. Bazaar yang harusnya dilaksanakan oleh full peserta pada bulan ketiga, akhirnya sebagian dilaksanakan pada bulan kedua. Salah satu pertimbangannya adalah demi kemudahan mobilitas peserta dari luar kota. Ya, IWPC2 tidak hanya diikuti oleh peserta dari Jabodetabek saja, tapi juga ada peserta yang berasal dari Riau, Surabaya, Subang, Cirebon, bahkan Medan.

Tak sekedar bazaar, di La Codefin Kemang ini para peserta juga wajib mempresentasikan business plan mereka di stage yang telah disediakan. Tentang peta bisnis ini sendiri, peserta telah mendapatkannya di pembekalan bulan pertama, Januari. Dengan adanya peta bisnis ini diharapkan para peserta yang masih galau tentang bisnisnya (termasuk penulis :) ) bisa menjadi lebih fokus. Fokus tentang bagaimana produk yang dihasilkan bisa memberi nilai lebih kepada pelanggan, tentang bagaimana distribusi dilaksanakan, dan target-target yang hendak diraih ke depannya.
Sebelum dilaksanakan presentasi, ada pembekalan juga dari praktisi keuangan, Ibu Rina Dewi Lina dengan topik Bagaimana Mengatur Keuangan Bisnis. Oleh beliau dan beberapa peserta, dilaksanakan permainan peran tentang bagaimana seharusnya seorang ibu mengatur keuangan bisnis dan rumah tangga. Presentasi itu sendiri, merupakan salah satu tolak ukur bagi para juri untuk menyaring peserta IWPC2 hingga menjadi 25 besar.

Selain bazaar dan presentasi bisnis oleh peserta, WPC juga bekerja sama dengan beberapa sponsor misal Nefertiti kosmetik yang menyuguhkan band penghibur, El John Pageants selaku penyelenggara Pemilihan Miss Earth 2013 mendatangkan Putri Pariwisata. Dan tentu saja TV EXCELLENT yang melakukan liputan. Dari peserta sendiri, diadakan beberapa games. Diantaranya games menghias cupcake dan kidpreneur  untuk anak-anak. Yang tak kalah juga adalah fashion show khusus pakaian big size oleh Pasique Butique.

Capek, tapi tetap semangat, itulah yang tergambar di wajah-wajah peserta IWPC2 hingga hari kedua bazaar ditutup. Kembali pulang ke rumah masing-masing, kembali menjalankan rencana bisnis yang sudah dicanangkan, kembali memberi yang terbaik bagi keluarga dan masyarakat sebagai hal yang utama, para peserta tetap intens berkomunikasi di dunia maya terutama sosial media hingga nama-nama yang masuk 25 besar keluar. Ada yang lega namanya masuk daftar, tentu ada pula yang kecewa karena belum berhasil tembus untuk melaju ke langkah berikutnya. Namanya saja kompetisi, akan selalu ada yang kurang ketika sebagian lainnya menunjukkan kelebihan. Namun itu tak mengurangi kebersamaan para peserta. Selamat berjumpa di event bazaar IWPC2 berikutnya, Road to Best 10 IWPC2,  akhir Maret 2014.

Tanah Baru, 1 Maret 2014 18.58
Indarwati Ayaran
Happyworkinghomemommy, Penulis, Crafter, owner Ayaran Craft :)

Jumat, 14 Februari 2014

IWPC2 dan Payung Finansial




Aku seketika tersenyum membaca ‘status’ mbak Irma di sebuah group. Beliau ini, duet dengan Bu Ietje S. Guntur adalah founder dari Woman Preneur Community. Di bawah ini aku copas-in isinya. Ijin share ya Suhu. :)

kenapa perempuan harus TAU DIRI alias harus tau potensi dirinya sendiri..?
kenapa perempuan jg harus mandiri dengan sumber income sendiri..? bukan utk sok belaguh belaguhaan

ssst niiih alasennya
1.suami kena PHK....ini mah skala kecil..cari kerja lg donk...buka usaha
2.Suami sakit luamaaaa...naaah hayo piyeee spy kel ga ikutan sakit semua
3.suami pulang kerumah Tuhan...ini skala takdir...bs bentar lagi bisa besok,lusa,bln depan taun depan ..terserah DIA kaaaan
4.Suami pulang kerumah orang lain....ini konyol tapi nyata kaaaan

Jaadiiiiiii...udah siap kalau salah 1 terjadi...weeeew...
jadi sekoci itu kudu siap sebelum kejadian....gimana pulaak sekoci bs mengamankan kapal induk..kalau sekoci masih ruksaak ga siap pakai....

met makan siaaaaaang

Pikirku, wah, pas banget sama topik yang barusan kubahas sama seorang sahabat. Terpisah jarak Depok-Tuban,  teman STM Perkapalanku dulu yang sekarang berbisnis kayu dan berencana membuka rumah makan ini terakhir berkomentar, “Kamu gaji suami sudah besar, kenapa harus kerja keras?”

Aku jawab, “Justru karena gaji suamiku besar  (catatan; besar di sini tentu relative sekali ya. Tergantung kesyukuran kita, tergantung standart hidup yang kita terapkan J ),itulah aku harus bekerja lebih keras. Kalau terjadi sesuatu pada suamiku, bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku dengan standar minimal sama dengan sebelumnya? Kalau bisa, justru penghasilanku harus lebih besar darinya. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi sebagai payung financial demi masa depan anak yang tentu berbiaya lebih mahal.”

“Tapi kamu itu lho, kok seperti gak nduwe kesel.”
Aku tersenyum, meski dia pasti tak bisa melihatnya. Hubungan kami lakukan melalui telpon. Kupasang speaker karena saat dia menelpon aku sedang membuat donat, cemilan favorit anak-anakku. Dua hari sebelumnya, dia menelpon saat aku in rush cari bahan di Tanah Abang setelah sebelumnya menyusuri pertokoan penjual aksesoris tas di depan Tanah Abang, belakang AURI, juga hunting celana jins seken kondisi 90% di Pasar Senen. Yap, bener-bener tawaf pasar namanya. Hahaha.

Tentang capek, setiap orang pasti merasakan. Meski ambang batas daya tahannya pasti beda-beda. Tergantung kondisi fisik dan mental. Dua faktor itu, adalah sesuatu yang sebenarnya bisa dimanipulasi dan jelas saling memengaruhi. Lalu apa hubungannya itu semua dengan IWPC?

Well, let me bocorin sedikit tentang embrio komunitas bisnis yang tinggal menunggu waktu menjadi gurita yang tentakelnya kemana-mana itu ya. Amiinnn.  Seperti yang kusinggung di atas, adalah dua ibu suri yang hobi mem-bully kami, anak-anak culun ini. Keluguan kami soal bisnis kelunturan brain-wash dari beliau berdua, juga pemateri-pemateri  yang ciamik punya di sesi pertama Januari lalu. February ini, diharapkan hasil kelunturan itu benar-benar mengubah ‘warna’ business plan yang kami punya dengan presentasi di La Codefin Kemang. Keren kan? Nggak cuma itu, akan ada juga bazaar bulan February dan Maret mendatang. Itu sebelum menuju final di bulan April. 

Lho, kok final? Kayak FIFA World Cup aja. Ya iyalah. Secara ini adalah kompetisi gitu lho. Yang kedua kalinya diadakan. IWPC yang pertama diadakan tahun lalu dengan dua orang sahabat crafterku keluar sebagai juaranya. Yeach!!! :D

Tapi jangan salah, meski judulnya kompetisi, kami seolah belajar bersama di group. Dan ssttt… meski awalnya kupikir pesertanya business beginner semua sepertiku, ternyata ada juga yang beberapa sudah settle di bidangnya, beromzet buanyak, dan sering jalan-jalan untuk pameran di luar negri. Nah, yang ini kujuluki beliau Ms. No-Excuses. Hehehe.
Lalu kenapa harus IWPC (Inspiring Woman Preneur Competition)?

Baiklah, aku akan membuat pengakuan. Jadi ceritanya aku dulu pernah depresi begitu ikut pindah suami ke Jakarta. Resign dari pekerjaan sebagai piping designer  kapal (kadang nggambar hull construction atau machinery outfitting juga nding), aku yang aslinya pencilakan jelas aja kalang kabut diam di rumah saja hingga menemukan jalan keluar di komunitas penulisan. Sempat eksis beberapa saat di passionku sejak bisa bisa baca itu, aku mengalami stuck saat bayi keduaku lahir. Untungnya, hobiku membaca menuntunku ke passion kedua, kerajinan tangan.

Awalnya yang kubuat dan kujual adalah aksesoris dan mainan berbahan dasar kain flannel. Itu juga yang mendorongku melahirkan buku kerajinan tanganku yang pertama, Creative Mom for Smart Kids terbitan Gramedia sebelum disusul adiknya selang 3 bulan kemudian berjudul Daur Ulang Barang Bekas terbitan Demedia Pustaka. Menjual diri, teteup… :P. Tapi harus kuakui, meski cinta nge-craft, pada satu titik aku merasa sayang waktu. Menulis, dengan rentang waktu sama dengan nge-craft nilai jualnya bisa jauh lebih banyak. Meski kepuasan batinnya seimbang. Tak terbandingkan. Galau, nggak fokus, aku akhirnya memberanikan diri beresolusi tengah tahun, Agustus 2013 kutetapkan sebagai kebangkitan usaha craftku. Meluaskan bahan dasar, melebarkan segmen yang kutuju dan diversiasi produk, brand yang kupakai kemudian adalah Ayaran. Singkatan dari nama ketiga anakku, Ais, Yasmin, Ranu.

Tapi berjalan sekian bulan, kenapa kok masih begitu-begitu saja? Apa yang salah? Kesempatan mencari tahu kesalahanku itu terbuka ketika ada info IWPC 2 ini. Alhamdulillah. Sebelumnya, aku pernah mengikuti pelatihan, yang diselenggarakan oleh majalah wanita papan atas di hotel bintang lima. Hasilnya, jauuuh beda dengan pelatihan ‘sederhana’ di Kalbis Pulomas dengan ibu suri yang suka mem-bully dan classmate yang bikin hepi. Hihihi.

Sebenarnya ada banyak materi menarik yang ingin kubagi. Apalagi tentang 4P yang mengingatkan pada dosen  marketingku di bangku kuliah dulu yang benar-benar menyampaikan ilmunya dengan cinta hingga tetap berasa meski sudah belasan tahun lamanya. Tentang nasihat bu Jackie Ambadar pemilik Le Monde, bahwa tak seharusnya bisnis mengalahkan hubungan antar manusia, tentang menetapkan harga yang ternyata banyak sekali komponennya oleh dokter Julliana, tentang berani bermimpi hingga Law Attraction terjadi oleh pak pemilik Gado-gado Boplo, tentang strive to excellent oleh Bu Ellise, dan masih banyak lagi.

Kapan-kapan aja ya. Aku harus mendengarkan body sekarang ini. Yang minta bermimpi, sebenar-benarnya mimpi. Apalagi jika mimpinya menjadi juara IWPC 2. Tapi kalau untuk yang satu itu, aku memilih berdoa dan berusaha saja. Pasti lebih dari sedap sekali. Amiiinnn. :)

Tanah Baru, 13/02/2014 00,57